Kamis, 12 Juni 2014

IKM

E.    ORGANISASI-ORGANISASI KESEHATAN
ORGANISASI KESEHATAN DI PROVINSI
Di wilayah provinsi daerah tingkat 1 terdapat organisasi kesehatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah
1.    Organisasi kesehatan pemerintah pusat
2.    Organisasi kesehatan pemerintah daerah
3.    Rumah sakit kelas A dan B
4.    Unit pelaksana teknik
5.    Organisasi kesehatan swasta
F.    KEPEMIMPINAN DAN ORGANISASI
Teori dasar dalam kepemimpinan
1.    Teori Genetis
2.    Teori sosial
3.    Teori Ekologis
G.    MUTU PELAYANAN KESEHATAN
Pengertian mutu
Persepsi tentang mutu suatu organisasi pelayanan sangat berbeda karena sifat sangat subjektif, disamping itu selera dan harapan pengguna pelayanan selalu berubah- ubah.
Mutu pelayanan kesehatan dapat dikaji antara lain berdasarkan tingkat pemampatan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat dan tingkat efisiensi institusi secara kesehatan.
Berikut beberapa indikator yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian mutu pelayan kesehatan.
1.    Indikator yang memacu pada aspek medis
2.    Indikator mutu pelayanan untuk mengatur tingkat efisiensi rumah sakit.
3.     Indikator mutu mengacu pada keselamatan pasien
4.    Indikator mutu yang berkaitan dengan tingkat kepuasan pasien
Tujuan program menjaga mutu mencakup 2 hal :
1.    Tujuan antara yang ingin dicapai
2.    Tujuan akhir yang dicapai
Sasaran program menjaga mutu adalah pelayanan kesehatan yang diselenggaraka
DAFTAR PUSTAKA
Adikoesoemo ( 2003 ) manajemen rumah sakit Jakarta : pustaka  Sinar Harapan Asrul, Azwar ( 1988 ). Pengantar administrasi kesehatan, Jakarta : Binarupa Aksana Departemen Kesehatan Republik Indonesia , 2001 – 2010. Jakarta : Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat
Greef, Judith A. ( 1996 ), komunikasi kesehatan dan perubahan perilaku. Djokjakarta : Gadjah Mada University Press.

A. Pengertian pelayanan

Pelayanan adalah cara melayani, membantu menyiapkan, mengurus, menyelesaikan keperluan, kebutuhan seseorang atau sekelompok orang. Artinya objek yang dilayani adalah individu, pribadi-pribadi, dan organisasi.

Dalam pengertian tersebut terkandung suatu kondisi yang melayani yakni memiliki suatu keterampilan keahlian di bidang tertentu. Berdasarkan keterampilan dan keahlian tersebut pihak yang melayani mempunyai posisi atau nilai lebih dalam kecakapan tetentu, sehingga mampu memberikan bantuan dalam menyelesaikan suatu keperluan, kebutuhan individu, atau organisasi.

Pelayanan masyarakat adalah segala bentuk pelayanan sector public yang dilaksanakan aparatur pemerintah, termasuk aparat yang bergerak di bidang perekonomian dalam bentuk barang dan jasa, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan ketentuan perudang-undangan yang berlaku.

Dalam pengertian pelayanan masyarakat tersebut secara konkrit diutarakan beberapa hal:
1. Pelayanan itu merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan aparatur pemerintah, termasuk aparatur di bidang perekonomian.
2. Objek yang dilayani adalah masyarakat
3. Bentuk layanan itu adalah barang dan jasayang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pelayanan pelanggan (masyarakat yang menjadi sasaran pelayanan) adalah system manajemen yang diorganisasikan unutk penyediaan hubungan pelayanan yang berkesinambungan antara waktu pemesanan dan barang watau jasa yang diterima, digunakan, dengan tujuan memuaskan pelanggan dalam jangka panjang (Christopher, 1992)

BAB III
KONSEP WAWASAN PELAYANAN KESEHATAN

A. Pelayanan Berwawasan Masyarakat

Pemikiran untuk berpihak melindungi produsen local dengan membeikan pelayanan khusus masih sulit dihilangkan.

Memberikan perlakuan khas berupa fasilitas dan proteksi khusus kepada prosdusen agar menjadi perusahaan besar, konglomerat bertujuan untuk memperkuat daya saing produsen dala era globalisasi. Pemberian pelayanan khusus ini merupakan suatu indilkasi, kecenderunagan berorientasi pada produsen.

Selain itu produsen yang berorientasi pada produk beranggapan bahwa konsumen akan puas kalau dengan memilih produk, dan produk yang ditawarkan bermutu. Dengan konssepsi menawarkan produk bermutu,, perhatian produsen difokuskan pada mutu produk. Jatuh cinta pada produk bukan pada kebutuhan, keinginan masyarakat (konsumen).

Konsepsi mEdan wawasan menjualpun adalah menawarkan produk yang dihasilkan, bukan memberikan apa yang diinginkan, dibutuhkan masyarakat.

Konsepsi tersebut tidaklah cocok lagi dalam era globalisasi yang serba kompetitif. Organisasi pemerinnatah dan bisnis harus merubah wawasan dari konsep produk , menjadi konsep berwawasan pelayanan masyarakat yang memuaskan.

B. Pelayana Aparatur Pemerintah

Sesuai dengan fungsi aparatur pemerintah yaitu abdi masyarakat, maka sangat tepat cara implementasi konsep pelayanan berwawasan masyarakat menempatkan pelanggan eksternal (penikmat barang dan jasa/konsumen) pada puncak struktur organisasi. Untuk itu tugas utama dari aparatur pemerintah, dan pelaku bisnis adalah mengidentifikasi, menentukan dengan konkrit, membuat secara lebih efektif dan efisien apa yang dibutuhkan, diperlukan oleh masyarakat. Pemimpin, manajer yang komitmen terhadap kepuasan, akan berorientasi juga kepada apa yang dibutuhkan pegawai dalam melaksanakan tugas akan berupaya mencegah timbulnya kerusakan lingkungan. Kalau semua pegawai komitmen memberikan peklayanan yang cepat, tepat maka kegiatan-kegiatan mereka tidak menimbulkan biaya tinggi, merugikan kepentingan masyarakat ini, berarti terjadi reformasi perilaku aparatur pemerintah dari dilayani menjadi melayani.

Semua aparatur pemerintah, menurut saya harus melakukan reformasi konsepsi , wawasan berpikir, merubah paradigm, dan perilaku meereka dari dilayani menjadi melayani. Melayani dengan cepat, tepat pada setiap level dibidang masing-masing sesuai tugas pokok dan fungsi. Cara kerja lama yang terkesan lamban dirubah, dirancang menjadi pelayanan yang cepat, tepat, lebih efektif, lebih efisien. Cara-cara berpikir yang kurang terbuka, yang kaku dalam mengartikan, menerapkan peraturan, disiplin, direformasi menjadi pemkir yang kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan. Peraturan kebijakan yang kurang kondusif terhadap tuntutan masyarakat, dikaji, disempurnakan dan diganti.

C. Pemberdayaan Masyarakat

Dalam upaya lebih untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen pelayanan masyarakat yang berbasis public, khususnya untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat atau sector public pada tahun 1993 David Osborne dan Ted Gabler mempopulerkan suatu konsepsi, gagasan, gerakan, yang disebuat “Reinverting Government”. Inti gerakan “Reinverting Government” menganjurkan kepada pemerintah sebaiknya lebih berfungsi sebagai pengendali (steering) dari pada sebagai penyedia layanan (Rowing) kepada Masyarakat.

Prinsip utama Reinverting Manajemen adalah pengembangan system manajemen pelayanan masyarakat dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat dan kerjasama dengan public (Public Private Partnership) atau mission driven budgeting. Maksudnya kalau public (swasta) sudah mampu menyediakan jasa pelayanan, pemerintah tidak perlu ikut campur tangan lagi. Pemerintah hanya berfungsi sebagai pengendali agar swasta yang diberi kepercayaan mengelola penyediaan jasa layanan tidak merugikan, membahayakan konsumen. Misalnya, pengendalian/ pengawasan mutu makanan dan obat-obatan oleh Departemen Kesehatan.

Berikut ada 10 prinsip gerakan Reinverting Government:
1. Pemerintahan katalis: mengarahkan ketimbang mengayuh;
2. Pemerintahan milik masyarakat: memberi wewenang ketimbang melayani;
3. Memerintahan yang kompetitif: menyuntikkan persaingan ke dalam pemberian pelayanan;
4. Pemerintahan yang digerakkan oleh misi: mengubah organisasi yang digerakkan oleh peraturan;
5. Pemerintahan yang berorientasi hasil: mebiayai hasil, bukan masukan;
6. Pemerintahan berorientasi pelanggan: memenuhi kebutuhan pelanggan, bukan birokrasi;
7. Pemerintahan wirausaha: menghasilkan ketimbang membelajakan;
8. Pemerintahan antisipatif: mencegah daripada mengobati;
9. Pemerintahan desentralisasi: dari hierarki menuju partisipasi dan tim kerja;
10. Pemerintahan berorientasi pasar: mendongkrak perubahan melalui pasar

D. Pelayanan Yang Memuaskan Semua Pihak

Dengan memberikan pelayanan yang memuaskan (prima) yang diberikan semua aparatur pemerintah pada semua level dibidang masing-masing, dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat, pemerintah atau pendiri organisasi itu sendiri, serta kita sebagai calon ahli Kesehatan Masyarakat.

BAB IV
KARAKTERISTIK PELAYANAN KESEHATAN

A. Karakteristik Pelayanan

Karakteristik atau atribut yang harus diperhatikan dalam perbaikan kualitas jasa pelayanan terutama dalam bidang kesehatan, setidaknya memenuhi karakteristik pelayanan yang menurut Vincent Gospersz ada 10 dimensi, yakni:

1. Kepastian waktu pelayanan
Ketepatan waktu yang diharapkan berkaitan dengan waktu proses atau penyelesaian, pengiriman, penyerahan, jaminan atau garansi dan menanggapi keluhan.
2. Akurasi Pelayanan
Akurasi pelayanan berkaitan dengan realibilitas pelayanan, bebas dari kesalahan-kesalahan
3. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan.
4. Tanggung jawab
Bertanggung jawab dalam penerimaan pesan atau permintaan dan penanganan keluhan pelanggan eksternal (konsumen).
5. Kelengkapan
Kelengkapan pelayanan menangkut lingkup pelayanan, ketersediaan sarana pendukung, dan pelayanan komplementer
6. Kemudahan mendapatkan pelayanan
Kemudahan mendapatkan pelayanan berkaitan dengan banyaknya outlet, petugas yang melayani, dan fasilitas pendukung.
7. Variasi model pelayanan
Variasi model pelayanan berkaitan dengan inovasi untuk memberikan pola-pola baru pelayanan, features pelayanan.
8. Pelayanan pribadi
Pelayanan pribadi berkaitan dengan kemampuan dalam memberikan, menanggapi kebutuhan khas.
9. Kenyamanan dalam memperoleh pelayanan
Kenyamanan pelayanan berkaitan dengan ruang tunggu/tempat pelayanan, kemudahan, ketersediaan data/informasi, dan petunjuk-petunjuk.
10.Atribut pendukung pelayanan
Atribut pendukung pelayanan dapat berupa ruang tunggu yang cukup, AC, bahan bacaan, TV, music, dan kebersihan lingkungan.
BAB V
PENGELOLAAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT

Manajemen Pelayanan Masyarakat adalah suatu proses atau kemampuan dalam mengelola jasa pelayanan yang dibutuhkan masyarakat mulai saat permintaan sampai jasa pelayanan itu diserahkan, digunkan. Pengelolaan jasa pelayanan yang cepat, tepat dan bermutu, karakteristiknya sesuai dengan yang dijanjikan atau diharapkan masyarakat (konsumen), itulah suatu manajemen atau pengelolaan pelayanan prima atau memuaskan.

Dalam pengelolaan pelayanan kesehatan di masyarakat agar dapat memuaskan ada 4 tahap aktifitas utamayang harus dilakukan secara berurutan dan terpadu, yakni:

A. Merencanakan jasa pelayanan yang dibutuhkan
B. Memproses atau mengolah jasa pelayanan
C. Menyerahkan jasa
D. Menanggapi kebutuhan
A. Merencanakan jasa pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat
1. Identifikasi Kebutuhan

Sebelum menentukan kebutuhan pelayanan kesehatan, lebih dahulu diketahui siapa yang menjadi sasaran (masyarakat) yang akan dilayani. Pada umumnya pelanggan yang dilayani setiap pegawai adlah semua orang atau organisasi/unit kerja yang berinteraksi, berhubungan dan mengharapkan sesuatu keperluan kebutuhannya sesuai dengan pekerjaan kita, sebagai calon ahli kesehatan. Mereka mengharapkan kita dapat memenuhi kebutuhannya sesuai dengan karakteristik, kualitas tertentu atau standard.
2. Memahami kebutuhan pelanggan

dalam memahami kebutuhan pelanggan yang sesuai dengan ekspektasi mereka , ada 2 pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu: komunikasi (3 cara) dan benchmarking (1 cara). Dengan demikian, ada 4 cara memahami kebutuhan pelanggan/konsumen/masyarakat, yaitu;
a. Reaktif
Memahami kebutuhan pelanggan secara reaktif adalah dengan mendengar keluhan pelanggan/ masyarakat. Jika ada keluhan baru beraksi menanggapi. Pendekatan ini kurang efektif dalam menciptakan pelayanan yang memuaskan pelanggan secara berkesinambungan.
b. Aktif
Memahami kebutuhan masyarakat secara aktif adalah dengan menjawab setiap ada pertanyaan pelanggan atau masyarakat yang datang ke pelayanan kesehatan dan menawarkan jasa yang disediakan. Cara ini menurut saya masih kurang efektif, karena tujuannya baru pada tingkat mendengar secara aktif, belum menggali apa harapan masyarakat yang dating ke pelayanan kesehatan.
c. Proaktif
Adalah aktif menjaring informasi tentang harapan masyarakat, melalui wawancar, survai. Penyedia jasa ini seolah-olaah memposisikan diri sebagai pelanggan. Pendekatan proaktif ini, menurut saya sangatlah efektif jika diterapkan pada penyedia jasa pelayanan kesehatan masyarakat.

d. Benchmarking
Memahami kebutuhan pelanan dengan benchmarking adalah suatu proses pengukuran pelayanan yang diberikan secara terus-menerus dengan car amembandingkan pelayanan terbaik dari instansi lain (pesaing).
Dalam menentukan kebutuhan khas setiap pelanggan atau masyarakat dalam pelayanan kesehatan agar tidak berdasarkan asumsi, opini, tetapi harus berdasarkan data dan informasi actual . oleh karena itu, harus ada sebuah persetujuan persepsi dengan masyarakat mengenai nilai, manfaat dan bentuk model jasa pelayanan dari anda. Jika telah memahami kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, maka harus merumuskan secara konkrit kebutuhan itu. Kemudian buat desain atau rancangannya. Dalam rancanagan itu harus ditentukan kualitas, karakteristik dari dimensi tertentu, termasuk dimensi waktu pemrosesan, dan penyerahan serta sentuhan pelayanan pribadi dengan tujuan sebagai standar pelaksanaan.

3. Memproses Jasa Pelayanan

Setiap pekerjaan mempunyai hasil atau mengarah pada pencapaian tujuan. Dalam era Globalisasi ini, tuntutan terhadap setiap pekerjaan bukan hanya hasil atau produk barang dan jasa, tetapi yang dihasilkan itu bermutu, dapat memuaskan konsumen dan efisien. Sehingga memiliki daya saing dalam kualitas dan harga.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat mengenai pelayanan kesehatan, ada 2 hal sebagai komponen utama yang harus diproses dengan tepat, benar dan menerapkan system pengendalian proses kualitas sebagai berikut:

a. Ketepatan Aktifitas
  • Dalam melakukan pelayanan kesehatan untuk masyarakat ada serangkaian aktivitas yang harus dilaksanakan untuk divalidasi agar tepat dan benar-benar akan menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat sesuai dengan yang telah drencanakan atau didesain.
  • Aktifitas yang telah ditentukan harus dipadukan agar saling mendukung dan terarah dalam memberikan pelayan kesehatan kepada masyarakat.
  • Setiap aktifitas yang telah ditentukan dibidang masing-masing sesuai tugas pokok dan fungsinya harus dilaksanakan secara benar dan tepat waktu berdasarkan standar yang telah ditetapkan.
b. ketepatan Sumber Daya
Agar aktivitas-aktifitas yang dilakukan oleh kita dalam melayani kesehatan masyarakat semakin efektif, harus tersedia sejumlah Sumber Daya yang tepat. Karena, Sumber Daya lah yang mendukung kita, sebagai calon ahli kesehatan masyarakat untuk tetap dapat berproduksi, menghasilkan sesuatu yang dapat dibutuhkan oleh masyarakat. Sumber Daya itu meliputi: Tenaga (SDM), Dana, Bahan, Alat atau Teknologi, Metode, Data, Informasi, Waktu, dan Lingkungan.
Sumber Daya ini bisa menjadi sumber pemborosan. Oleh karena itu, menurut saya harus dikelola, diproses dengan benar, dan tepat sebagai berikut:
1. Penyediaan Sumber Daya Kesehatan
  • Sumber daya yang kita perlukan untuk melayani kesehatan masyarakat harus tersedia dengan tepat, dalam keadaan cukup dan siap pakai.
  • Bahan-bahan masukan (input) yang akan dikelola harus diteliti dengan cermat, agar tepat kuantitas dan kualitas sesuai spesifikasi yang ditentukan untuk menjamin kualitas produk berupa pelayanan yang dihasilkan itu memuaskan semua pihak.
2. Penggunaan Sumber Daya Kesehatan
a. Penggunaan Sumber Daya Haruslah Tepat
, seperti:
  • SDM harus diberdayakan sesuai keterampilan, keahlian, kecakapan atau kompetensi.
  • Teliti kompetensi yang kita miliki apakah tepat dengan pekerjaan yang dipercayakan, menjadi tanggung jawab kita.
b. Sarana kerja
  • Kita teliti kerja atau teknologi yang tersedia, apakah dalam kondisi yang siap pakai, dan dapat kita operasikan dengan baik, sehingga penyelesaian pekerjaan kita dalam elayani kesehatan masyarakat semakin cepat, tepat dan hasilnya memuaskan semua pihak, tanpa ada cacat.
c. Usia pakai
  • Karakteristik sarana dan teknologi yang tersedia harus dipahami dan dijaga, dipelihara dengan baik, agar kapasitas kerja dalam melayani kesehatan masyarakat tetap optimal. Karena, dengan memahami karakteristik, mekanisme kerja sarana, teknologi yang tersedia berarti saudara akan dapat mengendalikan waktu pengoprasian, pemeliharaan, dan perbaikannya.
d. Memfungsikan Sumber Daya
  • Sumber Daya yang tersedia harus dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan fungsinya.
3. Sistem Pengendalian Proses Kualitas modern
Untuk menjalin sejumlah aktivitas dan Sumber Daya yang terpadu keaarah peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan efisiensinya secara berkesinambungan, perlu kita lakukan suatu system pengendalian proses kualitas melalui kegiatan inspeksi dengan melakukan penelitian maupun kunjungan langsung.
System pengendalian proses kualitas pelayanan kesehatan masyaarakat, setidaknya menurut saya harus memiliki 5 karakteristik:
a. Berorientasi kepada Masyarakat
Kebutuhan didesain berdasarkan keinginan atau ekspektasi masyarakat
b. Partisipasi aktif Pegawai
Konsepsi peningkatan mutu pelayanan kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab unit pengendali mutu, tetapi menjadi tanggung jawab semua unit pegawai.
c. Setiap pegawai memahami tanggung jawab spesifikasi kualitas
d. Berorientasi pada tindakan pencegahan
System pengendalian proses kualitas pelayanan kesehatan berorientasi pada pencegahan, bukan pada aktifitas seleksi (inspeksi). Proses input menjadi keluaran (output) dilakukan melalui aktifitas yang tepat, sumber daya yang tepat, dan dengan cara yang tepat dan benar.
e. Kualitas Pelayanan pada Kesehatan yang bermasyarakat merupakan “Jalan Hidup”
Dengan adanya pengendalian mutu pelayanan kesehatan sejak dini, dan pada semua level, maka ada jaminan pelayanan yang berkualitas, bebas cacat, sehingga Organisasi mempunyai daya saing yakni produk berupa pelayanan jasa kesehatan yang berkualitas, sehingga Organisasi dapat bertahan terus.

4. Penyerahan Jasa Layanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan pada saat penyerahan kepada masyarakat dan sesudah jasa pelayanan kesehatan itu diterima, meliputi:
  • Ketepatan waktu proses pelayanan kesehatan.
  • Konsisten menepati waktu penyerahan jasa pelayanan kesehatan yang diminta oleh masyarakat.
  • Kualias jasa yang diserahkan benar-benar sesuai dengan kualifikasi atau standar yang ditentukan, bebas dari kesalahan-kesalahan, termasuk kelengkapannya.
  • Informasi yang berkaitan penggunaan, manfaat jasa pelayanan kesehatan kepada masyarakat haruslah jelas.
  • Tanggapan terhadap keluhan pelayanan kesehatan harus tepat dan cepat.
  • Komitmen terhadap jaminan pelayanan kesehatan yang diberikan.
  • Interaksi dengan masyarakat menyenangkan terutama dalam hal: Menanggapi keperluan masyarakat, harus:
  1. Penampilan yang menarik dengan berpakaian yang rapid dan bersih.
  2. Sentuhan yang khas baik melalui bahasa tubuh dan bahasa tutur.
  3. Kesopanan dan kepekaan dalam menanggapi keluhan-keluhan.
  4. Cara penyampaian atau penyerahan pelayanan kesehatan dengan menawarkan, alternative seperti pemberian informasi mengenai efek samping dari obat-obatan yang akan digunakan oleh masyarakat dan manfaatnya.
5. Menanggapi Keluhan Pelayanan Kesehatan (Memuaskan Pelanggan yang Mengeluh).
Keterbatasan dalam berbagai hal membuat pelayanan kesehatan tidak selalu memaksimalkan kepuasan masyarakat. Pelanggan atau pemakai jasa pelayanan kesehatan yang menyampaikan keluhan, harus mwndapat pelayanan khas, sekalipun cara penyampaiannya kurang tepat. Kalau mereka tidak menyampaikan secar langsung kepada penyedia jasa pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit ataupun Puskesmas, tetapi disampaikan kepada orang lain dari mulut ke mulut, atau melalui mass media, dampaknya akan lebih buruk terhadap keberlangsungan Organisasi penyedia layanan kesehatan itu dan akan mengakibatakan resiko orang sakit akan semakin tinggi karena orang-orang atau masyarakat penikmat jasa pelayanan kesehatan, enggan untuk berobat ke Rumah Sakit tetapi menggunakan jalur lain, seperti dukun atau pengobatan yang kurang sesuai secara medis.

Berikut ini ada beberapa langkah yang dilakukan dalam memuaskan masyarakat yang mengeluh:
a. Dengarakan dengan cermat keluhan tentang pelayanan kesehatan yang disampaikan.
b. Catat dengan benar keluhan mereka
c. Ulangi inti pokok yang dilakukan untuk meyakinkan mereka bahwa kita telah mendengar, mengerti dengan benar keluhan mereka
d. Berikan sebuah sikap, bahwa kita berempati kepada masyarakat yang mengeluh
e. Akui bahwa kita dapat memaklumi perasaan, sikap, kekecewaan, kemarahan, kejengkelan mereka.
f. Minta maaf
g. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi keluhan itu.
h. Ucapkan terima kasih dan pernyataan akan lebih berhati-hati dikemudian hari.
BAB VI
KESIMPULAN
Manajemen Pelayanan Kesehatan Masyarakat adalah suatu proses atau kemampuan dalam mengelola jasa pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat mulai dari permintaan untuk dilayani sampai pelayanan jasa di bidang kesehatan itu diterima oleh masyarakat untuk dgunakan. Oleh karena itu, dengan menilik semua teori di bab-bab yang telah saya sampaikan, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa konsepsi Pelayanan Kesehatan harus berpihak kepada masyarakat dengan sebuah gerakan peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan Memberdayakan Masyarakat (Reinverting Goverment) untuk lebih meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen pelayanan Kesehatan Masyarakat, dengan melakukan progam-progam yang sifatnya mendidik masyarakat sehingga masyarakat itu sadar akan pentingnya kesehatan itu sendiri. Sehingga semua dapat meraskan aspek manfaat yaitu:
1. Bagi masyarakat
  • Kebutuhan masyarakat untuk pelayanan kesehatan semakin terpenuhi.
  • Partisipasi masyarakat dalam pelayanan kesehatan semakin meningkat.
  • Efektifitas kegitan masyarakat semakin meningkat, Karena masyarakatnya sehat.
  • Efisiensi operasional kegiatan masyarakat semakin meningkat.
  • Kesejahteraan masyarakat semakin bertambah.
2. Bagi Aparatur Pemerintah
  • Semakin Percaya Diri
  • Kepuasan pribadi, rasa kebanggaan dapat membantu, menolong orang lain dalam memenuhi keperluan, atau kebutuhan tertentu.
  • Ketenangan kerja semakin mantap.
  • Etos kerja semakin meningkat.
  • Kesejahteraan meningkat melalui perkembangan karier, kenaikan pangkat, gaji.
  • Citra aparatur pemerintah semakin meningkat.
    Bagi Pemerintah
  • Citra pemerintah semakin meningkat
  • Kepercayaan kepada pemerintah semakin meningkat.
  • Penerimaan pemerintah semakin meningkat.
  • Kerjasama kemitraan semakin efektif.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Sianipur,JP.G. 1998. Manajemen Pelayanan Masyarakat. Jakarta: LAN RI.
  2. Kadarmo, Siwi Utama. 1998. Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan. Jakarta: LAN RI.
  3. Sutopa. 1998. Administrasi Manajemen dan Organisasi. Jakarta: LAN RI.
  4. Wahjosumidjo. 1998. Kepemimpinan Abad XXI. Jakarta: LAN RI.
  5. Adikusumo, A. Amer H.D. Manajemen Pola Kerja Terpadu. Jakarta: LAN RI.


Scabies :Tungau penyebab penyakit kulit
Scabiesis adalah penyakit kulit yang disebabkan tungau (sejenis kutu)scabies/sarcoptes. Penyakit ini sering menyerang anjing, kucing, kelinci dan dapat juga menular ke manusia. Sebagian besar scabiesis pada anjing dan kelinci disebabkan oleh tungau sarcoptes scabiei, sedangkan notoedres cati lebih sering menyebabkan scabiesis pada kucing. Selain notoedres cati,  Sarcoptes scabiei juga dapat menyerang kucing.
Tungau Notoedres cati, siklus hidup & cara penularan
Description: http://www.kucingkita.com/images/articles/200710/scabiei.jpg
Scabiesis pada kucing lebih sering disebabkan notoedres cati, seperti halnya sarcoptes scabiei yang lebih sering menyerang anjing. Tungau ini berukuran sangat kecil (0.2-0.4 mm), hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau kaca pembesar.
Description: tungau penyebab scabiesis
Tungau  scabies

Seluruh siklus hidup tungau ini berada di tubuh induk semangnya. Tungau betina menggali dan melubangi kulit kemudian bertelur beberapa kali sambil terus menggali saluran-saluran dalam kulit induk semangnya. Lubang-lubang dalam kulit yang digali seekor tungau betina dapat  mencapai panjang beberapa centimeter.

Setelah bertelur beberapa kali, tungau betina mati. Dalam waktu 3-8 hari telur menetas menjadi larva berkaki enam. Larva yang telah dewasa berubah menjadi nimfa yang mempunyai delapan kaki. Nimfa dewasa berganti kulit menjadi tungau dewasa. Dalam saluranyang telah digali tungau betina tersebut, tungau dewasa melakukan perkawinan dan proses daur hidup berulang kembali. Satu siklus hidup memerlukan waktu 2-3 minggu.
Scabiesis dapat menyerang kucing pada semua umur, baik jantan maupun betina. Penularan penyakit kulit ini terjadi melalui kontak fisik antar kucing atau kontak dengan alat-alat yang tercemar tungau seperti sisir, kandang, dll.
Tanda & gejala terserang Scabies
Description: http://www.kucingkita.com/images/articles/200710/scabies2.jpg
Tanda-tanda awal terkena penyakit ini biasanya berupa rontok dan gatal disekitar telinga. Dipinggiran daun telinga terlihat ada kerak berwarna putih. Penyakit dapat menyebar dengan cepat ke daerah sekitar wajah, leher, hidung dan kelopak mata. Kadang-kadang tungau juga dapat menyebar hingga ke daerah perut dan telapak kaki.
Description: http://www.kucingkita.com/images/articles/200710/scabies1.jpg
Rasa gatal yang timbul menyebabkan kucing sering menggaruk-garuk.  Infeksi kronis/lama dapat menyebabkan penebalan dan keriput pada kulit ditutupi oleh kerak-kerak berwarna abu-abu kekuningan. Infeksi yang parah mengakibatkan luka dan berkembang menjadi infeksi sekunder.
Description: http://www.kucingkita.com/images/articles/200710/scabear.jpg
Diagnosa
Penyakit ini sering tertukar dengan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur (ringworm). Diagnosa penyakit biasanya dilakukan dengan cara memeriksa kerokan kulit dibawah mikroskop. Biasanya dalam kerokan kulit tersebut ditemukan banyak tungau.
Pengobatan
Obat klasik yang sering digunakan untuk mengatasi penyakit ini adalah sulfur/belerang. Sulfur juga merupakan obat klasik penyakit kulit yang disebabkan oleh ringworm/jamur. Mandikan kucing dengan shampoo/sabun yang mengandung sulfur, kemudian dicelup (dip) dengan cairan sulfur 2-3 %. Mandi dan dip sulfur dilakukan setiap tujuh hari sampai sembuh. Setidaknya diperlukan 6-8 kali mandi hingga penyakit sembuh.
Cara lain yang sering digunakan adalah injeksi obat golongan avermectin seperti ivermectin, doramectin atau selamectin. Suntikan inilah yang sering salah kaprah disebut sebagai suntik jamur, seperti juga kesalahan diagnosa scabies yang sering salah kaprah disebut sebagai jamur.
Setidaknya diperlukan dua kali suntikan ivermectin dengan selang waktu 2 minggu, agar penyakit dapat sembuh total.
Bila dalam satu rumah terdapat beberapa ekor kucing, Pengobatan yang sama juga harus diakukan terhadap kucing lain. Karena bila tidak diobati, ada kemungkinan terjadi infeksi ulang dari kucing lain yang tidak diobati, akibatnya penyakit ini tidak pernah sembuh secara tuntas.
Pencegahan
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan bisa dilakukan dengan cara menghindari kontak dengan kucing liar atau kucing yang telah terkena penyakit ini. Kucing yang tinggal di dalam rumah  biasanya jarang sekali terkena penyakit ini.
Cuci dan desinfeksi alat-alat grooming seperti sisir, sikat, dll setelah digunakan pada kucing yang terkena penyakit ini.
Hindari penitipan hewan atau tempat grooming yang tidak mempunyai sanitasi/kebersihan yang baik. Perhatikan juga apakah alat-alat grooming di desinfeksi sebelum digunakan terhadap kucing lain.
Bila salah satu kucing menunjukan gejala penyakit ini, segera isolasi dan cegah kontak dengan kucing lain yang masih sehat. Mandikan dengan shampoo khusus atau bawa ke dokter hewan untuk pengobatan.
Bisakah menular ke manusia ?
Seperti juga tungau lain yang termasuk dalam keluarga sarcoptes, notoedres cati dapat menyerang manusia. Sepertihalnya pada kucing, scabies juga menyebabkan kemerahan dan gatal-gatal pada kulit manusia.
Pada bagian yang terasa gatal biasanya terbentuk semacam benjolan kecil seperti jerawat, di dalamnya terdapat cairan. Bila pecah karena terus digaruk, tungau yang terdapat di dalamnya bisa menyebar ke daerah di sekitarnya. Rasa gatal yang ditimbulkan oleh tungau scabies cukup mengganggu.
Pada manusia biasanya penyakit ini bersifat sementara dan sembuh dengan sendirinya. Beberapa orang mungkin mempunyai kekebalan tubuh yang kurang baik dan cenderung  lebih sensitif terhadap serangan scabies ini.
Pengobatan dan pencegahan bisa dilakukan dengan mencuci tangan atau bagian yang gatal dengan sabun yang mengandung sulfur seperti JF Sulfur. Obat lain yang  bisa digunakan adalah salep scabicid.
 
Description: scabies  kucing
scabies parah
Description: scabies kucing sebelum suntik ivermectin
sebelum suntik ivermectin
Description: scabies kucing sembuh
2 minggu setelah suntik ivermectin

Oleh : drh. neno Waluyo S, 2007

ASKEP SCABIES


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Penyakit scabies merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh sarcoptes scabei. Saat menginfeksi manusia, kutu ini hidup dibawah kulit dan memakan darah korbannya. Mereka bertahan hidup memanfaatkan kehangatan kulit manusia, sehingga bila kutu ini terlepas ke udara luar maka mereka hanya mampu bertahan hidup tidak lebih dari 48 jam.
Gejala yang timbul karena scabies antara lain rasa gatal pada kulit terutama pada malam hari. Pada kulit yang terdapat kutu akan tampak bentol kecil kemerahan sedangkan area bekas kutu berjalan akan tampak kemerahan berkelok-kelok seperti pembuluh darah. Bagian tubuh yang terkena antara lain pergelangan tangan, sela-sela jari, siku, ketiak dll.
Skabies menular dari manusia ke manusia melalui kontak fisik (kulit) antara penderita skabies dengan orang yang sehat. Penularan terjadi khususnya bila kontak terjadi dalam waktu yang cukup lama/beberapa menit. Skabies juga bisa ditularkan melalui pakaian atau sprei yang dipakai bergantian dengan penderita skabies.
Pengobatan skabies yang terutama adalah menjaga kebersihan untuk membasmi skabies (mandi dengan sabun, sering ganti pakaian, cuci pakaian secara terpisah, menjemur alat-alat tidur, handuk tidak boleh dipakai bersama, dll)
Untuk itu kita harus selalu waspada dengan penyakit ini karena penularannya sangat cepat. apabila ada salah seorang anggota keluarga yang terkena penyakit ini, maka harus segera dihindarkan dari anggota keluarga lain yang masih dalam keadaan sehat.


B.      INSIDEN
1.       Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi scabies.
2.       Terdapat beberapa factor penunjang perkembangan penyakit ini antara lain social ekonomi yang rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas (ganti-ganti pasangan), kesalahan diagnosis dan perkembangan demografi serta ekologi.



BAB II
KONSEP MEDIS

1.    PENGERTIAN

1)      Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi (kepekaan) terhadap Sarcoptes scabiei var. huminis dan produknya (Adhi Djuanda. 2007: 119-120).
2)      Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) yang mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Penyebabnya scabies adalah Sarcoptes scabiei (Isa Ma'rufi, Soedjajadi K, Hari B N, 2005,http: //journal.unair.ac.id, diakses tanggal 30 September 2008).
3)      Scabies adalah penyakit zoonosis yang menyerang kulit, mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia yang disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) Sarcoptes scabiei (Buchart, 1997: Rosendal, 1997,http: //journal.unair.ac.id, diakses tanggal 30 September 2008).

2.       ETIOLOGI

Scabies disebabkan oleh kutu atau kuman sarcoptes scabei. Secara morfologik sarcoptes scabei merupakan tungau kecil berbentuk oval punggungnya cembung dan bagian perutnya rata berwarna putih kotor dan tidak memiliki mata. Sarcoptes betina yang berada di lapisan kulit stratum corneum dan lucidum membuat terowongan ke dalam lapisan kulit. Di dalam terowongan inilah Sarcoptes betina bertelur dan dalam waktu singkat telur tersebut menetas menjadi hypopi yakni sarcoptes muda. Akibat terowongan yang digali Sarcoptes betina dan hypopi yang memakan sel-sel di lapisan kulit itu, penderita mengalami rasa gatal.

3.       PATOFISIOLOGI
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat,menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap secret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemuannya papul, vesikel, dan urtika. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.

4.       MANIFESTASI KLINIK
Diagnosis dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardial berikut :
1)      Pruritus noktuma (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas.
2)      Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia,misalnya mengenai seluruh anggota keluarga.
3)      Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1cm, pada ujung menjadi pimorfi (pustu, ekskoriosi). Tempat predileksi biasanya daerah dengan stratum komeum tpis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mammae dan lipat glutea, umbilicus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang bagian telapak tangan dan telapak kaki bahkan seluruh permukaan ulit. Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala dan wajah.
4)      Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostk. Dapat ditemikan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.

 Keluhan utama pada penderita scabies adalah :
a)      Rasa gatal terutama pada malam hari.
b)      Tonjolan kulit (lesi) berwarna putih keabu-abuan sepanjang sekitar 1 cm.
c)       Kadang disertai nanah karena infeksi kuman akibat garukan.


Klasifikasi scabies antara lain :

1)      Scabies pada orang bersih, yaitu ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga jarang dijumpai.
2)      Scabies nodular, yaitu lesi berupa nodus cokelat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genetalia laki-laki. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensitivitas terhadap tungau scabies.
3)      Scabies yang ditularkan melalui hewan,yaitu sumber utamanya adalah anjing, kelainan ini berbeda dengan scabies manusia karena tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan genetalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak dengan binatang kesayangannya. Kelainan ini hanya bersifat sementara karena kutu binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.
4)      Scabies pada bayi dan anak, yaitu lesi scabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan dan kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder impetigo sehingga terowomgan jarang ditemukan.
5)      Scabies terbaring ditempat tidur, yaitu kelainan yang sering menyerang penderita penyakit kronis dan pada orang yang lanjut usia yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur terus. Sehingga orang itu dapat menderita scabies dengan lesi yang terbatas.
6)      Scabies Norwegia atau scabies krustosa, ini ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta,skuama generaisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predleksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga, bokong,siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang disertai distrofi kuku, namun rasa gatal tidak terlalu menonjol tetapi sangat menular karena jumlah tungau yang menginfeksi sangat banyak (ribuan).

5.       PENATALAKSANAAN
Syarat obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya murah.

Jenis obat topical :
1)      Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Pada bayi dan orang dewasa sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat aman dan efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur, berbau, mengotori pakaian dan dapat menimbulkan iritasi.
2)      Emulsi benzyl-benzoat 20-25% efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.

3)      Gama benzena heksa klorida (gameksan) 1% daam bentuk krim atau losion, termasuk obat pilihan arena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak dianurkan pada anak dibawah umur 6 tahun dan wanta hamil karena toksi terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali dalam 8 jam. Jika masihada gejala, diulangi seminggu kemudian.


4)      Krokamiton 10% dalamkrim atau losio mempunyaidua efek sebagai antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra. Krim( eurax) hanya efetif pada 50-60% pasien. Digunakan selama 2 malam berturut-turut dan dbersihkan setelah 24 jam pemakaian terakhir.

5)      Krim permetrin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman arena sangat mematikan untuk parasit S.scabei dan memiliki toksisitas rendah pada manusia.
                                                   
                                        
6)      Pemberian antibitika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya bernanah di area yang terkena (sela-sela jari, alat kelamin) akibat garukan.



                                           BAB III  
KONSEP KEPERAWATAN


1.       PENGKAJIAN
a.       Biodata (identitas pasien dan penanggung jawab).
b.      Riwayat kesehatan.
c.       Pola fungsi kesehatan.
d.      Pemeriksaan fisik.
e.      Analisa data


2.       DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

1)      Dx 1 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi.
Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien dapat segera teratasi.

INTERVENSI
RASIONAL

1.       Kaji intensitas nyeri, karakteristik dan catat lokasinya.


2.       Berikan perawatan kulit sesering mungkin.


3.       kolaborasi dengan dokter pemberi analgesic.

1.       Mengetahui dimana letak nyeri yang dirasakan klien dan seberapa besar tingkat nyeri yang dirasakannya.

2.       Agar tidak terjadi lesi atau luka pada daerah kulit yang di serang oleh kuman.

3.       Membantu mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh klien.









2)      Dx 2 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan gatal yang dirasakan.
Tujuan : istirahat tidur terpenuhi karena berkurangnya nyeri dan rasa gatal.

INTERVENSI
RASIONAL

1.       Kaji tidur klien.


2.       Klien tidak sering terbangun pada malam hari.


3.       Ciptakan suasana yang membuat klien merasa nyaman misal tempat tidur yang bersih dan rapi.

1.       Mengetahui apakah kebutuhan tidur klien terpenuhi.

2.       Untuk memenuhi kebutuhan istirahat tidurnya.


3.       Agar klien bisa istirahat dengan tenang.





3)      Dx 3 : Gangguan rasa aman = cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.
Tujuan : cemas berkurang karena meningkatnya pengetahuan tentang penyakit.

INTERVENSI
RASIONAL

1.       Kaji rasa cemas pasien.

2.       Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.


3.       Berikan penjelasan kepada pasien mengenai :
a)      Kondisi penyakitnya
b)      Program perawatan dan pengobatan yang akan dilakukan
c)       Hubungan istirahat dengan kondisi penyakitnya.

1.       Pasien tenang.

2.       Pasien kooperatif dengan program perawatan dan pengobatan.


3.       Pengetahuan pasien meningkat tentang penyakit, tanda-tanda, kondisi yang dialami, serta kemungkinan yang akan terjadi.
4)      Dx 4 : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampilan sekunder.
Tujuan : konsep diri dipertahankan dan ditingkatkan.

INTERVENSI
RASIONAL

1.       Kaji makna kehilangan pada pasien/orang terdekat.
                                                       

2.       Terima dan akui ekspresi frustasi ketergantungan, marah, perhatikan perilaku menarik diri dan penggunaan penyangkalan.



3.       Bersikap realistis dan positif selama pengobatan pada penyuluhan kesehatan dan menyusun tujuan dalam keterbatasan.

4.       Berikan penguatan positif terhadap kemajuan dan dorongan usaha untuk mengikuti tujuan rehabilitas.


5.       Dorong interaksi keluarga.

1.       Episode traumatic mengaki- batkan perubahan tiba-tiba, tidak diantipasi membuat perasaan kehilangan sehingga ia memerlukan dukungan dalam perbaikan optimal.


2.       Penerimaan perasaan sebagai respon normal terhadap apa yang terjadi membantu perbaikan,namun ini akan gagal apabila pasien belum siap menerima situasi tersebut.


3.       Meningkatkan dan menjalin rasa saling percaya antara pasien dengan perawat.




4.       Kata-kata penguatan dapat mendukung.


5.       Mempertahankan atau mem- buka garis komunikasi dan memberikan dukungan sercara terus menerus pada pasien dan keluarga.



5)      Dx 5 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan edema.
Tujuan : Integritas kulit membaik dan dapat dipertahankan.

INTERVENSI
RASIONAL

1.       Siapkan jadwal pemberian obat.


2.       Bantu klien untuk pemberian obat topical untuk daerah yang sulit dijangkau.



3.       Ajarkan teknik-teknik mencegah infeksi yaitu tidak menggaruk lesi dan menjaga kebersihan kulit.

4.       Berikan pakaian yang longgar dan mampu menyerap keringat.


5.       Kolaborasi pemberian obat sesuai program pengobatan.

1.       Agar dapat meningkatkan efektivitas obat dengan pemberian secara tepat dan teratur.


2.       Agar tidak terjadi kerusakan kulit dengan pemberian obat topical secara menyeluruh pada daerah yang susah di jangkau klien.


3.       Agar tidak terjadi infeksi yang disebabkan oleh kerusakan integritas kulit.


4.       Agar tidak menekan dan memberikan rasa nyaman.


5.       Membantu mencegah terjadinya infeksi.


EVALUASI

1.       Rasa nyeri dapat segera teratasi.
2.       Rasa gatal berkurang sehingga istirahat tidur dapat terpenuhi.
3.       Pengetahuan tentang penyakit meningkat sehingga cemas berkurang.
4.       Konsep diri terjaga dan ditingkatkan.
5.       Integritas kulit dapat dipertahankan.


BAB IV
PENUTUP

A.      KESIMPULAN

Berdasarkan pada hasil pengkajian diatas maka kesimpulan yang dapat kami ambil yaitu :
a.       Dalam melaksanakan perawatan pada penderita scabies kita dapat mendokumentasikan setiap klien yang akan diberikan pengobatan.
b.      Setiap perawat perlu memperhatikan keadaan klien setiap saat.
c.       Beberapa masalah dapat didefinisikan pada klien sehubungan dengan penyakitnya.


B.      SARAN
1.       Untuk instansi
Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan.

2.       Untuk klien dan keluarga
Perawatan tidak kalah pentingnya dibanding dengan pengobatan, sebab bagaimanapun teraturnya pengobatan yang diberikan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak akan tercapai. oleh sebab itu perlu adanya penjelasan baik pada klien maupun keluarganya mengenai manfaat serta pentingnya kesehatan.



DAFTAR PUSTAKA

·         Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ED : 3 jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.
·         Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima Medikal.
·         Anonim. 2007. Skabies (kulit gatal bikn sebel). http://www.cakmoki86.wordpress.com
·         Anonim. 2008. Skabies. http://www.medlinuk.blogspot.com